Mengintip Jejak Sejarah Kediaman Meneer Bosscha, Pangalengan

IMG00184-20120505-1440-2-600x449

Kabut tipis sudah menggelayut di hamparan perkebunan teh Malabar, Pangalengan, Kabupaten Bandung. Meski waktu masih menunjukkan pukul 15.00 waktu setempat, terik matahari sudah nampak meredup di tengah suhu 15 derajat celcius saat itu.

Perkebunan Teh Malabar, 7 kilometer dari pasar Pangalengan, atau dua jam perjalanan dari Kota Bandung, permadani hijau yang kini dimiliki PT Perkebunan Nusantara, tak hanya menyajikan eksotisme alam yang membuat setiap orang berdecak. Malabar, perkebunan teh yang cukup mahsyur di Jawa Barat, juga memiliki nilai sejarah yang cukup menarik untuk diurai.

Pamor pangalengan, memang tak bisa dilepaskan dari jasa besar seorang Karel Albert Rudolf (K.A.R) Bosscha. Di tengah hamparan pohon teh dan tanaman kina di luas lebih lahan 2 ribu hektar ini, sejarah tersebut masih mampu terrekam melalui jejak dan peninggalan kediaman Meneer yang masih nampak orisinil dan ciri khas peninggalan kolonial.

Dua kilometer dari arah pintu masuk perkebunan teh Malabar, Jejak sejarah Meneer melalui bekas kediamannya, masih utuh dan dipertahankan seperti aslinya tatkala dibangun sekitar 1896.

Memasuki pelataran rumah Bosscha, bangunan ciri Belanda, masih kokoh tegap menyambut para pengunjung yang ingin melihat sisa sejarah, peninggalan asli kediaman penggagas dan pendiri pembangunan Kampus ITB, Gedung Merdeka, dan Observatorium Bosscha di Lembang tersebut.

Nampak sederhana secara fisik dari tampak luar bangunan yang didominasi papan dan kayu tersebut. Rumah ini, ditinggali Meneer Bosscha tatkala menjadi pemimpin perkebunan Malabar, sejak 1896 hingga tutup usia pada 1928.

Rumah peristirahatan dengan mengadopsi arsitektur Eropa ini ditandai dengan tegaknya cerobong asap dari tungku kayu bakar ruang tengah rumah tersebut. Kekohan bangunan pun, tersentuh melalui batuan alam warna hitam pada dinding luar. Tanaman besar dan kecil sekitar kediaman meneer, turut memberi kesan asri bangunan persegi ini.

Berada pada ketinggian 1.531 meter di atas permukaan laut, keniscayaan rasa dingin memang tak mampu terhindar. Uniknya, udara dingin serasa membuyar memasuki ruang tamu sosok yang telah menorehkan ilmu pengetahuannya di pulau Jawa tersebut. Pasalnya, Langit-langit rumah pada bagian dalam dibuat rendah, perapian di antara ruang keluarga dan ruang makan. membuat kehangatan seisi ruangan tersebut menyergap.

Sambutan hangat Meneer, dapat terasa melihat beberapa foto lama yang tergantung di dinding. Sosok kharismatik, berperawak gemuk, dengan senyum yang nyaris dingin, terpampang pada foto yang dipasang di antara ruang tamu dan keluarga di depan pintu masuk rumah tersebut.

Lebih dekat merasakan nuansa 1800an, Di ruang tamu rumah Meneer, apik dilengkapi dengan kursi dan meja bundar antik yang berlapis kaca seukuran satu centi. Kayu jati asli berwarna coklat, menjadi tiang lampu khas eropa yang dipasang di sudut rak dekat dengan meja baca.

Memasuki ruang keluarga, persis di samping tungku perapian, piano buatan tahun 1887 masih bersandar pada posisi yang berhadapan dengan miniatur gamelan. Konon, menurut Maman (50), pengelola rumah peristirahatan ini, gamelan, dan alat musik lainnya, sering digunakan sebagai sarana hiburan bagi keluarga Meneer pada saat malam senggang.

“Dahulu, katanya Meneer memang suka mendengar lantunan gamelan bersama para kerabatnya,” ujar Maman yang menemani kami menjelajahi tiap sudut rumah tersebut.

Mengintip kamar peristirahatan Meneer, kita dihadapkan sebelumnya oleh lemari besar setinggi 2 meter yang dengan dinding lorong menuju kamar tidur Bosscha. Kayu jati, masih menjadi andalan kedua daun pintu lemari dinding tersebut. sepanjang lorong menuju ruang peristirahatan, di sisi kanan kita dapat melihat pemandangan Gunung Nini melalui jendela besar yang di tiap kedua sisinya terikat korden dari bahan kelambu.

Kamar tidur Bosscha pun masih terawat. Meski demikian, ujar Maman, bagian ini merupakan bagian yang mendapat rehabilitasi yang besar pasca gempa yang melanda Pangalengan 2009 silam. Di kamar ini pun, tertata meja tulis beserta bangku yang biasa digunakan Bosscha sebagai ruang membaca ataupun membaca kembali hasil penjualan teh pada saat itu.

Jika memasuki ruang bawah tanah yang dahulu digunakan sebagai ruang bilyar, akan terasa jejak sang pemilik rumah yang telah tiada 90 tahun lalu. Namun menurut Maman, ruangan ini difungsikan oleh pejabat PTPN untuk dijadikan gudang penyimpanan. Sayangnya, ruangan tersebut terkunci, kami hanya dapat melihat dari teralis luar ruangan yang tak berkaca tersebut.

Menurut Maman, rumah Meneer Boscha kini dijadikan museum oleh Pihak PTPN bagi pengunjung yang hendak berwisata ke Perkebunan Teh Malabar. Meski demikian, sesekali waktu, tempat ini pun dijadikan rumah penginapan bagi para pejabat PTPN yang sedang melakukan peninjauan di lahan yang juga memiliki pabrik teh bersejarah peninggalan kolonialisme Belanda.

Melihat keseluruhan isi rumah beserta lingkungan sekitar, sekiranya kita mampu memahami kejeniusan sosok Bosscha, khususnya pada pengembangan sektor perekonomian warga setempat. Kini sisa sejarah, masih tetap dipertahankan oleh warga sekitar. Kesohorannya, masih terpatri dalam tiap peradaban masyarakat Pangalengan. Setidaknya, ini didapat dari lokasi Meneer, yang diketahui oleh warga Pangalengan, meskipun mereka berlokasi di tapal batas kecamatan, jauh dari lokasi bersejarah tersebut terletak.

Tagged , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: